You are here:   Beranda
Register  |  Login
 Kegiatan
Minimize
     
JuneJuly 2010August
SunMonTueWedThuFriSat
123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

 Situs Terkait
Minimize
 Gambar
Minimize
Kantor Pusat PTPN-IV
 Berita & Siaran Pers
Minimize
Jan 25

Diposting oleh: cs
25/01/2010 8:37 

JAKARTA: Sejumlah komoditas pertanian dan perkebunan dinilai dapat dijadikan produk unggulan Indonesia untuk bersaing dengan produk lain terkait dengan Asean China Free Trade Area (ACFTA).
Komoditas potensial yang dapat digenjot ekspornya ke China a.l. kelapa sawit dengan produk turunan, karet alam, kakao, gambir, dan rotan olahan. Sementara, komoditas nonkomplementer yang dinilai potensial untuk masuk ke China adalah buah-buahan tropika eksotik, sayuran, ikan tangkap, dan makanan khas olahan asal Indonesia.

Senior Advisor Graduate Program of Management and Busines Institut Pertanian Bogor E. Gumbira Sa'id menuturkan beberapa peluang untuk produk agribisnis dan komoditas nonkomplementer sangat besar.

"Pemerintah perlu mendorong usaha para petani, pekebun, atau nelayan untuk mengembangkan produk potensial tersebut," ujarnya di Bogor akhir pekan lalu.

Menurut dia, untuk menilai ACFTA jangan hanya dilihat dari sisi negatif tetapi juga dari sisi positif di mana sejumlah produk unggulan di Tanah Air mendapatkan pasar baru. Dengan tarif bea masuk yang mulai O%, katanya, membuka kesempatan produk unggulan Indonesia untuk dipromosikan.

Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Ahmad Dimyati menuturkan sebagai upaya membidik peluang pasar ekspor produk hortikultura, pihaknya akan memberlakukan SNI wajib untuk komoditas buah-buahan dalam negeri. Dengan demikian, katanya, produk buah impor yang dikonsumsi dalam negeri harus layak.

Dia mengatakan saat ini banyak produk buah dalam negeri yang sudah memenuhi standar ekspor antara lain manggis, nanas, pisang, dan salak. Hal ini, katanya, karena sudah banyak kebun di dalam negeri yang memenuhi standar good agricultural practices (GAP). "Yang jelas SNI wajib harus segera dibuat dan diterapkan. Hal ini merupakan salah satu instrumen perlindungan terhadap produk nasional," katanya.

Sementara itu, Menteri Pertanian Suswono mengatakan Kementerian Pertanian akan meningkatkan riset untuk meningkatkan industri hilir pertanian, guna menghadapi daya saing dalam perdagangan bebas Asean dan China.

"Riset untuk mengembangkan revitalisasi teknologi industri hilir perlu ditingkatkan, agar lebih efisien guna meningkatkan daya saing," ujar Suswono di Desa Undaan Tengah, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Sabtu.

Menurutnya, industri pengolahan pertanian perlu segera dikembangkan untuk mengejar ketertinggalan. "Misalnya singkong diolah menjadi tepung singkong agar memiliki nilai tambah dalam produksinya," katanya.

(Bisnis Indonesia, 25 Januari 2010)

Tags:

Nama Anda:
E-mail Anda:
(Optional) Email digunakan untuk Gravatar.
Komentar:
Security Code
Masukkan kode seperti ditunjukkan pada kotak diatas
Tambah Komentar   Cancel 
  
Maximize
  
Minimize

 What's New?
Minimize
 Jajak
Minimize
Bagaimana tampilan Website PTPN4 ?



Pilih  Lihat Hasil
 Online
Minimize
People Online Pengunjung Online:
Visitors Pengunjung: 2
Members Anggota: 0
Total Total: 2