You are here:   Beranda
Register  |  Login
 Kegiatan
Minimize
     
JuneJuly 2010August
SunMonTueWedThuFriSat
123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

 Situs Terkait
Minimize
 Gambar
Minimize
Kantor Pusat PTPN-IV
 Berita & Siaran Pers
Minimize
Mar 8

Diposting oleh: cs
08/03/2010 20:37 


Jakarta, Kompas - Indonesia dan Malaysia sepakat bekerja sama mengatasi gempuran isu negatif yang dilancarkan terhadap industri minyak kelapa sawit. Indonesia dan Malaysia adalah pemasok 85 persen minyak kelapa sawit ke pasar dunia.

Kesepakatan itu dinyatakan dalam nota kesepahaman (MOU) yang ditandatangani Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Asosiasi Pengusaha Kelapa Sawit Malaysia (Malaysian Palm Oil Association/MPOA), Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Asosiasi Pemilik Perkebunan Minyak Kelapa Sawit Serawak (SOPPOA), Federal Land Development Authority (FELDA), dan Asosiasi Investor Perkebunan Malaysia di Indonesia (APIMI) di Jakarta, Jumat (5/3) malam.

Penandatanganan itu disaksikan Menteri Pertanian Suswono dan Menteri Perladangan dan Komoditas Malaysia Bernard Dompok.

”Setelah (MOU) ini, akan ada gugus tugas yang bekerja intensif menyuarakan kepentingan bersama bahwa produsen sawit telah melakukan praktik terbaik dalam pengembangan industri sawit lestari,” kata Suswono.

Areal kelapa sawit Indonesia 7,9 juta hektar, dengan produksi 20,2 juta ton minyak kelapa sawit (CPO) dan 16 juta ton di antaranya diekspor. Adapun Malaysia menghasilkan 17 juta ton CPO dari areal 4,5 juta hektar.

Indonesia dan Malaysia sudah dua kali menandatangani kesepakatan kerja sama terkait kelapa sawit. Pertama tentang harga yang ditandatangani 26 Mei 2006. Kedua tentang pengurangan produksi melalui peremajaan tanaman, 6 November 2008.

Pada penandatangan MOU kali ini, kesepakatan yang dibuat lebih komprehensif karena melibatkan petani.

Menurut Suswono, bila bersatu, Indonesia dan Malaysia berpeluang jadi penentu harga CPO. Adapun terkait isu lingkungan, seharusnya ada lembaga independen yang mengkaji secara ilmiah klaim pengembangan industri kelapa sawit tidak lestari.

”Dengan demikian, kasus pemutusan kontrak sepihak oleh pengguna CPO seperti Unilever tidak lagi terjadi,” kata Suswono.

Bernard Dompok menambahkan, Indonesia dan Malaysia memiliki posisi kuat dalam Meja Bundar Minyak Sawit Lestari (Roundtable Sustainable Palm Oil/RSPO). ”Tanpa MPOA dan Gapki, RSPO akan bubar. Hal itu menjadi posisi tawar kami. NGO pasti tidak ingin RSPO bubar karena mereka punya kepentingan,” ujarnya.

Ketua Umum Gapki Joefly J Bachroeny mengatakan, sesama produsen CPO harus merasa senasib menghadapi tekanan di pasar internasional terkait isu pembangunan industri sawit lestari dan reduksi emisi gas rumah kaca. ”Harus ada kerja sama dalam bentuk lebih konkret, terencana, dan sistematis,” ujarnya.

Ketua MPOA Mohamad Saleh mengatakan, produsen CPO juga harus mewaspadai berbagai isu lingkungan yang akan terus dikembangkan NGO berkaitan dengan kelapa sawit. (ham)

Tags:

Nama Anda:
E-mail Anda:
(Optional) Email digunakan untuk Gravatar.
Komentar:
Security Code
Masukkan kode seperti ditunjukkan pada kotak diatas
Tambah Komentar   Cancel 
  
Maximize
  
Minimize

 What's New?
Minimize
 Jajak
Minimize
Bagaimana tampilan Website PTPN4 ?



Pilih  Lihat Hasil
 Online
Minimize
People Online Pengunjung Online:
Visitors Pengunjung: 3
Members Anggota: 0
Total Total: 3