Site
Web
Beranda
You are here:
Beranda
Register
|
Login
Kegiatan
January
February 2012
March
Sun
Mon
Tue
Wed
Thu
Fri
Sat
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
Situs Terkait
PTPN4 BUMN Online
WebM@il PTPN4
E-Proc PTPN4
RSPO Assessment
Gambar
Your browser does not support inline frames
Kantor Pusat PTPN-IV
Berita & Siaran Pers
Industri hilir sawit kurang berkembang
Agust
3
Diposting oleh:
cs
03/08/2010 8:25
Industri sawit meminta pemerintah memberikan insentif bagi pengusaha untuk mendorong pertumbuhan industri hilir yang dinilai cenderung kurang berkembang.
Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) M. Fadhil Hasan mengatakan industri hilir sawit tidak berkembang setidaknya karena ada tiga alasan.
Pertama, nilai tambah crude palm oil (CPO) jauh lebih tinggi dibandingkan dengan produk turunan sawit lainnya. Kedua, ketersediaan infrastruktur seperti pelabuhan, jalan dan jembatan yang minim.
Ketiga, riset dan pengembangan yang minim dilakukan karena cenderung dianggap sebagai beban.
Fadhil mengatakan dengan nilai tambah yang minim, industri hilir sawit cenderung dianaktirikan oleh pengusaha. “Untuk itu pengusaha memerlukan berbagai insentif untuk bisa menjadikan nilai tambahnya bersaing dengan CPO,” ujarnya kemarin Adapun, kegiatan riset dan pengembangan cenderung dianggap sebagai beban bagi pengusaha karena tidak menjanjikan hasil dalam jangka pendek. Dengan kondisi itu, pengusaha tidak banyak memberikan perhatian dan dana untuk kegiatan tersebut.
“Padahal R&D itu sangat penting. Kondisi ini menunjukkan pemberian insentif, seperti pajak, itu sangat dibutuhkan agar industri hilir bisa tumbuh.” Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan industri sawit seharusnya lebih banyak
mengembangkan produk turunan sawit di Indonesia sehingga bisa memberikan nilai tambah.
“Jangan ekspor mentah terus. Gapki sudah berkomitmen untuk mengembangkan industri hilir…” Namun, atas pernyataan itu Fadhil mengatakan kendati relatif lamban, dibandingkan dengan kondisi awal pertumbuhan industri, komposisi ekspor produk mentah dan turunan kini telah lebih berimbang.
Pada awal perkembangan industri sawit, komposisi ekspor produk mentah dan turunan sekitar 80%:20%. “Sekarang sudah 60%:40% sehingga dapat dikatakan industri hilir sebenarnya sudah berkembang,” katanya.
Sementara itu Menteri Pertanian Suswono meminta Provinsi Riau untuk mencadangkan sedikitnya 1 juta hektare kebun kelapa sawit untuk program integrasi pertanian dan peternakan sapi.
“Riau sangat punya potensi karena lahan sawitnya yang luas,” katanya seperti dikutip Antara.
Integrasi sawit dan sapi adalah salah satu solusi menambah pendapatan petani sawit rakyat, dan juga dalam rangka mendukung ketahanan pangan untuk swasembada daging nasional pada tahun 2014.
Menurut dia, 1 hektare kebun kelapa sawit setidaknya bisa digunakan untuk menggembalakan dua ekor sapi yang pakannya bisa dipenuhi dari kebun kelapa sawit. Luas lahan kelapa sawit Riau kini lebih dari 2 juta hektare.
Selain itu, petani juga bisa menggunakan sapi sebagai alat transportasi untuk mengangkut hasil panen.
(Bisnis Indonesia, 3 Agustus 2010)
Tags:
Ada 0 komentar
Nama Anda:
E-mail Anda:
(Optional) Email digunakan untuk
Gravatar
.
Komentar:
Security Code
Masukkan kode seperti ditunjukkan pada kotak diatas
Tambah Komentar
Cancel
What's New?
Manajemen
Pengumuman - Dokumen Prakualifikasi Gedung Serbaguna
Pengumuman - Gambar dan Denah Gedung Serbaguna
Jajak
Bagaimana tampilan Website PTPN4 ?
Baik
Cukup
Kurang
Pilih
Lihat Hasil
Online
Pengunjung Online:
Pengunjung:
5
Anggota:
1
Total:
6
Beranda
|
Tentang Kami
|
Kinerja
|
Unit Usaha
|
Interaksi
Privacy Statement
|
Terms Of Use
Copyright 2009 by IT PTPN4