Biodiesel Dorong Penghematan, Selisih dengan Harga Dasar Solar Mengecil

JAKARTA, KOMPAS — Realisasi penyaluran biodiesel untuk dicampur dengan solar untuk program B-20 pada 2016 sebanyak 2,7 juta kiloliter atau melampaui target yang ditetapkan sebanyak 2,5 juta kiloliter. Kebijakan pencampuran biodiesel ke dalam solar mampu menghemat devisa negara untuk impor solar senilai 1,1 miliar dollar AS.

Program B-20 adalah kebijakan pencampuran 20 persen biodiesel dalam setiap liter solar. Kewajiban pencampuran biodiesel ke dalam solar diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 29 Tahun 2015 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) Jenis Biodiesel dalam Kerangka Pembiayaan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit.

Untuk 2016, campuran biodiesel sebanyak 20 persen. Dengan demikian, setiap liter solar subsidi yang dijual mengandung 20 persen biodiesel yang kemudian nama pasarnya adalah biosolar.

Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa Sawit Bayu Krisnamurthi mengatakan, sepanjang 2016, dana pungutan ekspor segala jenis produk sawit terkumpul sebanyak Rp 11,7 triliun. Selain dipakai untuk subsidi biodiesel yang sebanyak Rp 10,6 triliun pada 2016, dana tersebut juga dipakai untuk peremajaan tanaman sawit, pengembangan sumber daya manusia, serta untuk penelitian dan pengembangan tentang sawit.

BPDP juga menyetorkan dana Rp 996 miliar kepada kas negara dari pungutan Pajak Pertambahan Nilai produsen biofuel sawit. “Kebijakan ini, pada 2016, telah mampu menghemat devisa senilai 1,1 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 14,8 triliun. Di samping itu, program B-20 juga memberi manfaat dalam hal pengurangan gas emisi sekitar 4,49 juta ton,” ujar Bayu, Selasa (10/1), di Jakarta.

Selisih harga

BPDP membayar selisih harga dasar biodiesel dengan harga dasar solar sebagai subsidi kepada PT Pertamina (Persero) selaku penyerap utama biodiesel untuk dicampur dengan solar. Tahun 2016, BPDP memberi subsidi sebesar Rp 4.500 per liter sampai Rp 5.500 per liter. Besarnya subsidi tersebut diakibatkan selisih yang lebar antara harga dasar biodiesel dan harga dasar solar.

Tahun lalu, harga minyak dunia sedang anjlok dan berada pada titik terendah, yaitu kurang dari 30 dollar AS per barrel. Secara rata-rata, harga minyak dunia sepanjang 2016 adalah sekitar 40 dollar AS per barrel.

Pada saat yang sama, harga biodiesel hanya berkisar 650 dollar AS per ton sampai 750 dollar AS per ton. “Dengan harga minyak dunia yang terkoreksi menjadi sekitar 50 dollar AS per barrel hingga 60 dollar AS per barrel, sementara harga biodiesel relatif stabil, kami perkirakan subsidi untuk biodiesel pada tahun ini akan lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu,” kata Bayu.

Sebelumnya, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia Paulus Tjakrawan mengingatkan agar dana yang dihimpun dari pungutan ekspor produk sawit tidak tercurah semua untuk subsidi biodiesel. Selisih harga dasar yang lebar antara biodiesel dan solar bisa membuat dana yang dihimpun tergerus.

Sementara itu, dana yang dihimpun perlu dipakai untuk pembiayaan peremajaan lahan sawit, pengembangan sumber daya manusia, serta pendanaan penelitian dan pengembangan.

“Seharusnya subsidi biodiesel untuk pencampuran solar tidak semua ditanggung dari dana sawit. Apalagi, pada saat harga minyak dunia yang anjlok, subsidi untuk biodiesel cukup besar. Pemerintah jangan melupakan pendanaan untuk peremajaan tanaman sawit dan pengembangan sumber daya manusia,” ujar Paulus.

Berdasarkan data dari BPDP, sepanjang 2016 volume ekspor minyak sawit mentah (CPO) dan segala produk turunannya sebanyak 25,7 juta ton. Angka itu turun dibandingkan dengan pencatatan pada 2015 yang sebanyak 26,2 juta ton. Namun, nilai ekspor pada tahun 2016 lebih besar, yaitu 17,8 miliar dollar AS, dibandingkan dengan nilai ekspor pada 2015 yang sebesar 16,5 miliar dollar AS. (APO)

sumber : Kompas | Rabu, 11 Januari 2017

*(Komunikasi dan Hubungan Eksternal)