Menimbang Rencana IPO Anak BUMN

Sepanjang 2017, belasan anak usaha BUMN dari berbagai sektor dijadwalkan melakukan aksi korporasi initial public offerings (IPO) di Bursa Efek Indonesia. Namun, muncul pertanyaan, sejauh mana rencana ini bakal terwujud?

Sampai saat ini belum diketahui secara pasti anak usaha BUMN mana saja yang bakal melakukan IPO pada 2016. Sejumlah direktur BUMN telah menyatakan rencana IPO entitas anak itu, tetapi belum dapat dipastikan siapa yang benar-benar merealisasikan rencananya.

Sepanjang semester II/2016, Bisnis mewawancarai sejumlah direksi BUMN serta pejabat Kementerian BUMN terkait rencana aksi penjualan saham kepada pemodal pasar modal itu. Setidaknya, sekitar 11 perusahaan-13 perusahaan disebut bakal melakukan IPO pada tahun ini.

Bagaimana sebaiknya memahami rencana IPO tersebut? Rencana itu perlu dipahami dengan sejumlah kemungkinan serta memperhatikan berbagai sepak terjang yang dilakukan oleh BUMN di pasar modal dalam beberapa tahun terakhir.

Seperti diketahui, tidak semua rencana IPO anak usaha BUMN dapat direalisasikan. Bukan hanya pada 2016 atau awal 2017 ini para direktur BUMN menyatakan rencana IPO anak usaha.

Beberapa tahun lalu, saat rezim pemerintahan yang berbeda, rencana IPO anak BUMN juga sudah diwacanakan oleh pejabat Kementerian BUMN atau direktur BUMN. Namun, realisasinya hanya sedikit sekali dibandingkan dengan jumlah seluruh anak BUMN yang ditaksir mencapai 700 entitas.

Salah satu faktor yang membuat BUMN menunda rencana IPO atau membatalkan rencana yang sudah dibuat adalah ukuran anak usaha yang dianggap masih kecil. Oleh karena itu, induk usaha ingin membesarkan ukuran anaknya tersebut sebelum melantai di BEI.

Dalam suatu kesempatan beberapa waktu lalu, Direktur Keuangan Wijaya Karya Steve Kosasih mengatakan rencana IPO Wika Realty dan Wika Gedung tidak dilakukan pada 2016 karena pihaknya ingin membesarkan anak usahanya tersebut sebelum IPO.

Proses itu dianggap perlu dilalui supaya hasil IPO bisa lebih optimal. Beberapa waktu lalu, Wijaya Karya selaku induk usaha, berencana menambah modal dua anak usaha tersebut. “Kami ingin hasil yang bagus,” kata Steve.

Dalam kesempatan terpisah, Direktur Utama Hutama Karya I Gusti Ngurah Putra juga mengatakan tidak melakukan IPO anak usahanya, PT HK Realtindo, pada 2016 karena ingin mendapatkan hasil yang lebih optimal.

“Jadi kita mundurkan rencana itu pada 2017,” katanya beberapa waktu lalu.

HASIL OPTIMAL

Pelaksanaan rencana IPO memang membutuhkan persiapan dan momentum yang tepat supaya mendapatkan hasil yang optimal. Salah satu pelaksanaan IPO anak usaha BUMN yang hasilnya mendapatkan pujian sejumlah pihak adalah Waskita Beton Precast.

Sebagai perusahaan yang berusia masih relatif muda, hasil IPO Waskita Beton Precast dari penjualan 10,5 miliar saham mencapai Rp5,1 triliun, atau yang terbesar di antara emiten baru lain sepanjang 2016.

Dalam tiga tahun terakhir, hanya ada satu anak usaha BUMN setiap tahunnya yang mampu dan mau melakukan IPO. Secara total, ada tiga anak usaha BUMN yang melakukan IPO pada 2014-2016.

Mereka adalah perusahaan yang dimiliki oleh tiga perusahaan konstruksi berbeda yang beberapa tahun sebelumnya telah melakukan IPO terlebih dulu sebagai BUMN.

Mereka antara lain anak usaha PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., yaitu PT Wijaya Karya Beton Tbk. (IPO pada 2014), anak usaha PT PP (Persero) Tbk. yakni PT PP Properti Tbk. (IPO 2015) dan anak usaha PT Waskita Karya (Persero) Tbk. yaitu PT Waskita Beton Precast Tbk.

Dari empat BUMN konstruksi yang telah IPO, hanya PT Adhi Karya (Persero) Tbk., yang belum melepas anak usahanya ke pasar modal. Adhi Karya pernah memiliki rencana IPO anak usahanya yang bergerak di sektor properti, PT Adhi Persada Properti.

Namun, dalam acara paparan publik Adhi Karya pada akhir 2016, manajemen menyatakan penundaan rencana IPO Adhi Persada Properti dan menyiapkan anak usaha lainnya, PT Adhi Persada Gedung, untuk melakukan aksi penjualan saham itu pada 2017.

Pada 2017, dua dari tiga perusahaan konstruksi yang telah terlebih dulu melepas anak usahanya di pasar modal itu, berencana kembali menggelar IPO untuk anak usaha lainnya. Mereka antara lain anak PTPP yaitu PT PP Peralatan, PT PP Pracetak, dan PT PP Energi.

Selain itu, Wijaya Karya berencana menggelar IPO anak usaha lainnya yaitu PT Wijaya Karya Bangunan Gedung dan PT Wijaya Karya Realty.

BUMN konstruksi lainnya, Waskita Karya, sebenarnya juga berencana melakukan aksi korporasi anak usahanya, tetapi belum dapat dipastikan apakah akan berujung kepada IPO atau tidak.

Pada saat ini, seperti diungkapkan oleh manajemen, Waskita Karya menyiapkan proses penjualan saham anak usahanya, PT Waskita Toll Road, dengan cara penawaran yang terbatas kepada sejumlah investor institusi atau tanpa IPO.

Dengan mencermati aneka rencana tersebut, tentu saja tantangan dan situasi yang dihadapi oleh BUMN menjadi jauh berbeda pada 2017. Bagi beberapa BUMN, mereka bahkan tidak hanya menyiapkan IPO satu anak usahanya, melainkan lebih dari satu anak dalam kurun 12 bulan.

Belum pernah terjadi di sepanjang sejarah bahwa BUMN mampu melakukan IPO lebih dari satu anak usahanya dalam waktu setahun. Apabila rencana tersebut dapat diwujudkan, maka rangkaian peristiwa itu dapat menjadi peristiwa monumental dalam sejarah BUMN.

Jika sejumlah rencana itu dapat direalisasikan, maka BUMN akan dapat menambah jajaran rekor aksi korporasi yang telah dicapai selama ini.

Pada 2016, jumlah BUMN yang menggunakan pasar modal sebagai salah satu tempat mencari dan semakin bertambah. Jumlah obligasi yang diterbitkan oleh BUMN mencapai Rp33 triliun, atau yang terbesar dalam 6 tahun terakhir. Rekor baru itu melanjutkan rekor lama pada 2015.

Dari jumlah tersebut, sebagian obligasi diterbitkan oleh BUMN yang sebelumnya belum terlalu aktif berkegiatan di pasar modal seperti PT Pelindo I (Persero), PT Angkasa Pura I (Persero) dan PT Angkasa Pura II (Persero).

Selain itu, pada 2015 dan 2016, terdapat 7 emiten dari 20 emiten BUMN yang melakukan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dulu (PMHMETD) atau rights issue karena mendapatkan Penyertaan Modal Negara (PMN) dalam APBN Perubahan.

Jumlah dana yang diperoleh dari rights issue itu mencapai lebih dari Rp27 triliun atau yang terbesar dalam 6 tahun terakhir. Berbagai sumber pendanaan itu sebagian digunakan untuk pembangunan infrastruktur.

Setelah rekor emisi obligasi dan rights issue pada 2015 dan 2016, apakah BUMN kembali mencatatkan rekor dalam hal IPO anak usaha pada 2017?

sumber : Bisnis Indonesia, Rabu, 11/01/2017

*(Komunikasi dan Hubungan Eksternal)